Beranda       Tentang Kami       Link       Forum       Guestbook       Pencarian       Kamis, September 09 2010    

Publikasi
Opini
Sumber Data
Galeri
Quiz
Buku

« Halaman Sebelumnya

Membela Kebebasan: Percakapan tentang Demokrasi Liberal

Berawal dari sebuah program talk-shown Senin pagi hari, yang berdurasi selama tigapuluh menit, pada pukul 08.30 – 09.00 WIB, kerjasama antara Friedrich Naumann Stiftung dan Freedom Institute, yang bertitle “Forum Freedom” dan disiarkan oleh Radio 68H serta direlay oleh puluhan radio lain di seluruh Indonesia, muncullah sebuah buku dengan judul yang menantang, “Membela Kebebasan: Percakapan tentang Demokrasi Liberal.

 

Buku setebal 300 halaman yang diterbitkan oleh Freedom Institute bekerja sama dengan penerbit Alvabet ini, baru saja diperkenalkan dan disebarkan kepada publik. Menurut Hamid Basyaib, editor buku ini dan host program talk-show radio Forum Freedom,  penerbitan isi talk-show dalam bentuk buku ini bertujuan menjangkau audiens yang lebih luas dari pendengar rutin program Forum Freedom.

 

Ide pokok dari program radio yang kini memasuki tahun kedua ini, dimulai pada Mei 2005, menurut Hamid, adalah perlunya publik Indonesia mendapatkan pemahaman tentang liberalisme atau paham kebebasan secara lebih mendalam, daripada sebuah pemahaman yang dangkal dan acapkali berkonotasi negatif.

 

Kata liberalisme memang seolah menjadi kata yang kotor, bahkan “haram” menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Bahkan ada sebuah kalimat rancu “free fight liberalism” yang acap dipakai untuk menggambarkan kekotoran liberalisme, yang seolah hanya memuja “pertarungan bebas” antara si kuat dan si lemah atau antara si kaya dengan si miskin.

 

Dalam bidang politik kata liberal berkonotasi demokrasi Barat, yang dengan sendirinya berbeda dengan demokrasi Timur. Di masa Orde Baru lawan dari demokrasi Barat adalah demokrasi Pancasila.

 

Setelah merdeka selama 61 tahun persepsi ini tidaklah berubah. Paham liberal masih dianggap sebagai paham Barat yang hanya memajukan free sex atau free love. Kata ini mendapat banyak musuh. Kalangan mahasiswa atau lembaga swadaya masyarakat merasa “jerih” jika dikatakan berwatak liberal, walaupun mereka mengagumi atau menyukai film Soe Hok Gie misalnya.

 

“Membutuhkan keberanian,” ujar Hamid menyikapi pertanyaan mengapa Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung mau menyelenggaran sebuah program yang isi gagasannya disalahpahami oleh banyak pihak. Paling tidak ada keberanian untuk melanggar “tabu” serta keberanian untuk mengajak memahami gagasan liberal pada track yang sebenarnya.

 

(thamrin) 


Knowledge is more a matter of learning than of the exercise of absolute judgment. Learning requires time, and in time the situation dealt with, as well as the learner, undergoes change.

Frank H. Knight, dalam bukunya Risk, Uncertainty, and Profit par. III.VIII.15

 



 Versi Cetak  Kirim ke Teman Nilai Artikel Ini:
   Rating saat ini: 3 dari 5

Artikel Terkait:
Tentang Kami   08 Apr 2006
Kebebasan   24 Apr 2006
The Legislative Process in the Indonesian Parliament (DPR): Issues, Problems and Recommendations   25 Apr 2006
Economic Freedom of the World: Annual Report 2005   28 Apr 2006
Economic Freedom of the World 2004   28 Apr 2006
Evolusi Liberalisme di India   02 Jun 2006
Telah lahir Info Freedom Newsletter Edisi Perdana   06 Jun 2006
Anugerah Honorary Doctorate kepada Dr. Guido Westerwelle   07 Jun 2006
Prospects For Democracy and Market Economy in Turkey   08 Jun 2006
Memperkuat Demokrasi di Tengah Masyarakat Muslim   29 Jun 2006

idhar from 222.124.243.27 at 2006-10-01 06:33:30:
cukup bagus, kalau bisa seluruh artikel buku- buku bisa didownload
dewa_ncc from 125.163.97.35 at 2008-06-27 05:18:26:
wala...bagus banget artikelnya ia nich kayaknya kita sebagai warga negara Indonesia perlu adanya kebebasan...pkoknya banyak dech kebebasan yang mesti kita peroleh...
icetea from 210.57.218.2 at 2009-03-30 04:57:36:
yah mungkin sebuah kebebasan penting namun kalo bebas2 aja di agung2kan kapan bu' bisa bener2 bebas yang bener ga semua alasnnya bebas... nytanya bebas n demorasi n reformasi di jadikan alasan untuk menghalalkan sebuah kesalahn...payah kan

Berikan komentar Anda tentang artikel ini::
Name *
Email *
Website
Your IP 38.107.191.106
Your comment *
 
(c)2010 Kedai-Kebebasan.org