Berawal dari sebuah program talk-shown Senin pagi hari, yang berdurasi selama tigapuluh menit, pada pukul 08.30 – 09.00 WIB, kerjasama antara Friedrich Naumann Stiftung dan Freedom Institute, yang bertitle “Forum Freedom” dan disiarkan oleh Radio 68H serta direlay oleh puluhan radio lain di seluruh Indonesia, muncullah sebuah buku dengan judul yang menantang, “Membela Kebebasan: Percakapan tentang Demokrasi Liberal.”
Buku setebal 300 halaman yang diterbitkan oleh Freedom Institute bekerja sama dengan penerbit Alvabet ini, baru saja diperkenalkan dan disebarkan kepada publik. Menurut Hamid Basyaib, editor buku ini dan host program talk-show radio Forum Freedom, penerbitan isi talk-show dalam bentuk buku ini bertujuan menjangkau audiens yang lebih luas dari pendengar rutin program Forum Freedom.
Ide pokok dari program radio yang kini memasuki tahun kedua ini, dimulai pada Mei 2005, menurut Hamid, adalah perlunya publik Indonesia mendapatkan pemahaman tentang liberalisme atau paham kebebasan secara lebih mendalam, daripada sebuah pemahaman yang dangkal dan acapkali berkonotasi negatif.
Kata liberalisme memang seolah menjadi kata yang kotor, bahkan “haram” menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan ada sebuah kalimat rancu “free fight liberalism” yang acap dipakai untuk menggambarkan kekotoran liberalisme, yang seolah hanya memuja “pertarungan bebas” antara si kuat dan si lemah atau antara si kaya dengan si miskin.
Dalam bidang politik kata liberal berkonotasi demokrasi Barat, yang dengan sendirinya berbeda dengan demokrasi Timur. Di masa Orde Baru lawan dari demokrasi Barat adalah demokrasi Pancasila.
Setelah merdeka selama 61 tahun persepsi ini tidaklah berubah. Paham liberal masih dianggap sebagai paham Barat yang hanya memajukan free sex atau free love. Kata ini mendapat banyak musuh. Kalangan mahasiswa atau lembaga swadaya masyarakat merasa “jerih” jika dikatakan berwatak liberal, walaupun mereka mengagumi atau menyukai film Soe Hok Gie misalnya.
“Membutuhkan keberanian,” ujar Hamid menyikapi pertanyaan mengapa Freedom Institute dan Friedrich Naumann Stiftung mau menyelenggaran sebuah program yang isi gagasannya disalahpahami oleh banyak pihak. Paling tidak ada keberanian untuk melanggar “tabu” serta keberanian untuk mengajak memahami gagasan liberal pada track yang sebenarnya.
(thamrin)
Knowledge is more a matter of learning than of the exercise of absolute judgment. Learning requires time, and in time the situation dealt with, as well as the learner, undergoes change.
Frank H. Knight, dalam bukunya Risk, Uncertainty, and Profit par. III.VIII.15
![]() | Versi Cetak | ![]() | Kirim ke Teman | ![]() | Nilai Artikel Ini: | ![]() ![]() ![]() ![]() Rating saat ini: 3 dari 5 |
cukup bagus, kalau bisa seluruh artikel buku- buku bisa didownload |
wala...bagus banget artikelnya ia nich kayaknya kita sebagai warga negara Indonesia perlu adanya kebebasan...pkoknya banyak dech kebebasan yang mesti kita peroleh... |
yah mungkin sebuah kebebasan penting namun kalo bebas2 aja di agung2kan kapan bu' bisa bener2 bebas yang bener ga semua alasnnya bebas... nytanya bebas n demorasi n reformasi di jadikan alasan untuk menghalalkan sebuah kesalahn...payah kan |

Kamis, September 09 2010 








