Beranda       Tentang Kami       Link       Forum       Guestbook       Pencarian       Senin, September 06 2010    

Galeri
Opini
Publikasi
Sumber Data
Quiz
Galeri

Pathways to Liberty and Free Markets in Asia

Satu hari sebelum berlangsungnya 8th Conference Economic Freedom Network Asia 2006, pada tanggal 11 September 2006 Friedrich Naumann Stiftung dan Atlas Foundation mengadakan sebuah workshop 3rd Asian Liberty Forum yang mengambil tema Pathways to Liberty and Free Markets in Asia, yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia.

Jumlah peserta yang menghadiri acara ini bertambah dari tahun sebelumnya, yang diadakan di Phuket, Thailand. Sebanyak 60 orang peserta dari 20 negara di Asia kali ini berkumpul dan mendiskusikan bagaimana mengembangkan dan memasarkan gagasan liberal di Asia dan beberapa tema diskusi yang lebih spesifik tentang bagaimana sebuah think tank (lembaga pemikiran) mengembangkan organisasinya, mengumpulkan dukungan, baik dukungan dana maupun dukungan sebagai volunteer.

Menurut Grover Norquist, Americans for Tax Reform, US,  dukungan yang diberikan kepada sebuah think tank tak selamanya berupa uang. Dukungan tersebut juga bisa berupa in kind, yang merupakan sumbangan tenaga volunteer terhadap berbagai kegiatan yang dilakukan oleh organisasinya.  Satu hal penting yang dipaparkan oleh Kris Mauren, Acton Institute,  adalah dukungan akan muncul jika masyarakat melihat apa yang dikampanyekan oleh sebuah think tank dirasa pula sebagai sebuah tema yang menjadi kebutuhan masyarakat. Ia mengatakan, bukan apa yang kita anggap penting yang harus dilakukan, tetapi apa yang menurut masyarakat menjadi penting.

Liberal think tank di Asia acap kali pula harus melakukan kerja disebuah negara yang sulit secara politik maupun menghadapi persepsi negative masyarakat. Di Indonesia misalnya tekanan yang dihadapi Jaringan Islam Liberal, menurut Lutfie Assyaukanie, yang datang dari kelompok radikal maupun puritan Islam, tumbuh seiring dengan perkembangan gagasan dan budaya Islam yang berbau Timur Tengah, terutama muncul pada kalangan menengah dan kaum muda serta mahasiswa. Dan lebih menakjubkan, menurut Lutfie, munculnya radikalisme ini acap dijumpai pada perguruan-perguruan tinggi sekuler.

Sementara di sisi lain, Turki misalnya, sebuah negara yang seperti Indonesia memiliki mayoritas penduduk beragama Islam, organisasi think tank disana, seperti yang diutarakan oleh Ozlem Caglar – Yilmaz, Association for Liberal Thinking, menghadapi tantangan bagaimana memperjuangkan pruralisme dan kebebasan beragama, terutama menghadapi tekanan dan keharusan sekelur yang diterapkan oleh pemerintah Turki, seperti larangan menggunakan jilbab pada seluruh sekolah yang ada di Turki.

Acara 3rd Asian Liberty Forum ini juga ditandai dengan pengumuman para penerima Atlas Templeton Award 2006, yang berasal dari Asia, dimana salah satu think tank dari Indonesia, Freedom Institute, menjadi salah satu penerimanya.

Dibawah ini adalah beberapa photo yang diambil selama workshop 3rd Asian Liberty Forum 


 

 



 

menarakembar.jpg

ALF 06 more.jpg

barun_web.jpg

nepal01_web.JPG

award_web.jpg

Phil_web.JPG

caru_web.JPG

Ozlem_web.jpg

lutfie.JPG
 
 


Other Galleries:
  • Seminar IAF tentang Sekularisme dan Liberalisme
  • Lokakarya Young Liberals and Democrats of Asia (YLDA) di Malaysia
  • Workshop Administrasi Pertanahan di Wonosobo
  • Workshop Perencanaan Pengembangan Ekonomi Regional di Wonosobo
  • Seminar IAF Tentang NGO dan Partai Politik
  • “Communications Workshop: Political Communication in the Digital Era – Blogging for Democracy” 4-6 Desember 2006
  • "CHANCES AND CHALLENGES OF LIBERALISM"
  • Theodor Heuss Academy
  • Preferential Trade Agreements – Local solutions for global trade?
  • “THE 2nd ASEAN CONFERENCE ON COMPETITION POLICY AND LAW”


  • (c)2010 Kedai-Kebebasan.org