Galeri
Seminar IAF tentang Sekularisme dan Liberalisme
Selama lebih kurang lebih dua minggu, 23 peserta dari 21 negara mendiskusikan topik sekularisme dan liberalisme dalam Pelatihan Kepemimpinan tentang “Sekularisme dan Liberalisme” di Gummersbach, Republik Federal Jerman, yang biasa dikenal dengan mana Seminar Internasional IAF, pada 23 September – 5 Oktober 2007 lalu.
Sejak masa John Locke (1632-1704) dan Immanuel Kant (1724-1804) -keduanya filsuf Barat, bahkan di masa filsuf kenamaan Islam Abul Waleed Muhammad Ibnu Rusyd (1126-1198), sekularisme sudah diperdebatkan sebagai sebuah konsep dan cara pandang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekularisme menyajikan konsep tegas tentang pemisahan negara dengan agama. Namun, tentu saja tetap mendukung kebebasan beragama dengan jaminan sepenuhnya oleh negara. Sekularisme adalah salah satu komponen dasar demokrasi liberal dan suatu prasyarat untuk memajukan hak asasi manusia.
Sehingga taklah heran jika presentasi, tanya-jawab, panel diskusi, kelompok kerja, perdebatan dan perbedaan pandangan mewarnai jalannya seminar tersebut. . Latar belakang profesi yang berbeda, seperti politikus, periset, jurnalis, mahasiswa, dosen, pendeta, pengacara dan anggota kongres, membuat diskusi menjadi kaya akan sumbangan pengalaman masing-masing peserta.
Firmansyah MS, mantan Training Manager Internews Timor-Leste, yang kini menjadi Direktur Eksekutif P3Media (Pusat Pengkajian dan Pengembangan Media), menjadi salah satu peserta dalam seminra IAF tersebut.
Berikut adalah beberapa rekaman photo yang sempat diambil olehnya selama seminar, yang mungkin memberikan gambaran tentang seminar tersebut dan kerukunan diantara sesama peserta, meskipun berdebat keras didalam ruang seminar.
Other Galleries:
|